Tinggalkan komentar

Cukupkah Belajar Mengajar Dengan Buku Paket ?


“Baiklah anak-anak, sampai halaman berapa pelajaran kita minggu kemarin ?”, seorang guru bertanya kepada para muridnya. “Halaman 40 buk…tentang hewan dan tumbuhan langka”. “Sebelum ibu memulai pelajaran hari ini, ibu akan bertanya pada beberapa orang untuk mengingat kembali pelajaran yang telah kita pelajari “.

Dialog diatas sering terjadi di dalam suatu kelas saat proses pembelajaran berlangsung. Siswa membaca isi buku yang menjadi pegangan baginya untuk dipelajari dirumah sementara guru menginstruksikan pada siswa untuk dibaca secara bergiliran. Namun ada juga guru yang sesekali mengarahkan siswa untuk melihat isi buku yang menjadi pegangan siswa untuk dibaca saat dirumah. Guru tersebut melengkapi dirinya dengan buku referensi lainnya saat mengajar sehingga tidak selalu mengacu pada isi buku pegangan pada siswa.

Namun ironisnya, saat guru memberi tugas pada murid atau siswa sehubungan dengan materi pelajaran yang telah dipelajari namun jawabannya tidak ditemukan pada buku pegangan yang ada pada siswa, siswa selalu mengatakan bahwa pelajaran itu “tidak pernah dipelajari”. Siswa selalu mengeluh dengan kondisi yang seperti ini. Muncullah protes atau sikap acuh tak acuh saat ditanyakan mengapa tugas belum selesai atau mengapa tugas tidak dikerjakan. Alasannya selalu sama, “jawabannya tidak ada pada buku paket”.

Mungkin kondisi seperti ini juga pernah terjadi pada kebanyakan guru. Hal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa sebab:
1) Guru lupa menyampaikan pada siswa tujuan utama diberikannya buku paket
sekolah sebagai pegangan siswa
2) Guru selalu mengambil sumber informasi pada buku yang sama dengan buku
yang dibaca siswa
3) Guru selalu memberikan tugas-tugas berdasarkan soal-soal yang telah tercetak
pada buku paket pegangan siswa
4) Saat guru berhalangan hadir ke sekolah, tidak memberikan / menyampaikan
materi yang akan diajarkannya pada hari itu. Sehingga guru yang menggantikan di
kelas hanya bisa berpedoman pada buku yang ada pada siswa.

Cara-cara seperti di atas mungkin dapat diubah sehingga tidak menimbulkan dilema pada siswa saat dia akan mengikuti suatu event-event dalam hal prestasi belajar. Siswa harus diberi pemahaman bahwasanya sumber-sumber belajar yang lain boleh digunakannya selagi masih memiliki keterkaitan dengan materi yang dipelajari. Sehingga siswa lebih dapat mengexplor kemampuan yang dimilikinya.

Sementara guru, jangan hanya mengandalkan buku paket yang ada pada siswa saat guru tidak dapat hadir di kelas. Guru harus memberikan suatu informasi baru yang tidak ada pada buku paket pegangan siswa dengan tidak mengabaikan keterkaitan antara materi yang diberikan dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Sehingga siswa merasa adanya keterkaitan materi yang diajarkan oleh guru pengganti walaupun guru yang sebenarnya tidak hadir di kelas. Dan antusias siswa untuk melanjutkan pelajaran juga tinggi karena jika guru yang tidak hadir hanya mengandalkan buku paket maka siswa akan merasa “jenuh” sehingga merasa kurang tertarik jika isi buku yang sama harus mereka baca sementara guru yang mengajarkan di depan kelas berbeda.

Buku paket adalah sarana pembantu yang diberikan sekolah kepada para siswa untuk mereka jadikan sebagai salah satu sumber informasi. Namun, tidak mutlak harus dibaca atau dijadikan sumber saat siswa belajar di sekolah. Sehingga para siswa akan lebih kreatif dalam menyampaikan pendapat, informasi yang berkaitan dengan pertanyaan dari guru maupun soal-soal tugas yang diberikan. [by Mas@nde]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: